Home / Ruang Anak / Psikologi Anak / Family Life Coaching

Family Life Coaching

oleh: Ust. Harry Santosa

Seorang ibu konsultasi kpd saya, ia nampak separuh bingung, separuh sedih. Masalahnya ia digugat cerai suaminya. Pernikahan mereka dengan 3 orang anak dan usia pernikahan di atas 10 tahun, bukanlah masa yang pendek merajut kebersamaan.

Ibu ini memberikan surat gugatan suaminya kepada saya, ada point2 dimana suaminya menyalahkan dirinya sebagai istri yang begini dan begitu. Saya melihat tak ada perbuatan keji yg dilakukannya, dan gugatan itu sebenarnya keluhan umum terjadi pada pernikahan.

Saya minta konfirmasi, apakah daftar gugatan itu benar. Ibu itu mengatakan memang benar sebagian, tapi itu hal hal yang sudah lama terjadi namun diungkit kembali, misalnya terkait tuduhan bahwa ibu utu tak bisa mengurus uang, tidak bisa dekat dengan keluaga suami dan bla bla…

Dugaan saya benar, gugatan gugatan itu, sebagaimana pasangan lainnya, sebenarnya hanyalah pencarian alasan untuk berpisah. Banyak hal dalam pernikahan yang tidak segera bisa diungkap dan diselesaikan pasangan suami istri, mereka umumnya tak punya jalan untuk mengurai permasalahan yang mereka temui sepanjang pernikahan.

Akibatnya menjadi berlarut larut dan komulatif masalahnya, lalu merembet ke mana mana, bagai benang kusut yang tak tahu ujung pangkalnya. Berusaha memperbaiki namun selalu kandas karena tak tahu harus darimana mulainya. Akhirnya frustasi dan jalan mensudahi semuanya adalah perceraian.

Padahal, menikah dengan siapapun, sepanjang tidak tahu bagaimana mengurai masalah, bagaimana memetakan dimensi kehidupan yang saling mempengaruhi dstnya maka akan berulang kembali. Perceraian memang dihalalkan, namun disayangkan apabila hanya karena ketidakmampuan menemukan masalah dan potensi lalu menyelesaikannya dan mengembangkannya.

Perceraian atau perpisahan umumnya adalah cara paling cepat untuk lari dari masalah yang tak kunjung selesai dan dirasakan menghambat jalan. Banyak juga pasangan yang tak bercerai, tetap serumah, namun sesungguhnya sudah bercerai jiwanya, mereka bertahan hanya karena tidak enak dengan anak anak, atau sekedar mempertahankan nama baik dstnya.

Teman teman yang baik, keluarga muda maupun keluarga tua, kita semua pasti merindukan pernikahan berjalan baik dan berbahagia bahkan berkumpul kembali bersama di syurgaNya namun kitapun sering tak tahu bagaimana menata kehidupan yang baik di dunia sesuai fitrah, sehingga akibatnya masalah masalah jadi menumpuk dan sulit diurai lalu bercerai.

Maka sebelum semua terlambat, lakukanlah family life coaching dengan penuh komitmen. Ini adalah metode untuk memetakan dimensi dimensi kehidupan dengan melihat fitrah fitrah mana yang tak berkembang sehingga mengganggu kehidupan pernikahan bahkan kehidupan secara keseluruhan. Ini juga melihat mana yang sudah berkembang lalu perlu dihebatkan lagi barsama sama.

Kehdupan pernikahan (family life) adalah satu aspek kehidupan, goyahnya pernikahan bisa jadi karena ada aspek kehidupan lain seperti spiritual life, work/business life, social life, aesthetic life dll yang tak bahagia menjalaninya sehingga berdampak pada kehidupan keluarga.

Family coaching bukan proses mendikte, tetapi proses mengenali dan menerima realita, lalu bersama merancang perbaikan ke depan, mengenalkan peran sejati keayahbundaan dan juga membangun misi keluarga ke depan. Tanpa proses ini maka pernikahan akan sangat rentan berpisah, hanya menunggu waktu meletusnya. Korbannya siapa? Tentu saja anak anak kita bahkan masa depan kita sendiri.

Salam Kehidupan Peradaban

#fitrahbasedlife

Komentar

comments

About Puri Pramudiani

Lihat lainnya

“Mumu, Aku Boleh Jajan Ga?” Boleh…Tapi…

Saat pertama Haby masuk SD, sebetulnya Haby belum mengerti apa itu uang, macam-macam bentuk uang, …