Home / My Note / #3 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

#3 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

1. Tentang Surat Cinta untuk Suami

Ini dia saat yang ditunggu-tunggu membuat surat cinta untuk suami. Ini adalah tugas yang paling spesial yang dulu pernah diceritakan oleh teman saya yang sudah lulus batch IIP sebelumnya. Katanya moment yang paling berkesan selama mengikuti kelas IIP ini adalah ketika pemberian surat cinta untuk suami karena disana kita akan menemukan kembali bagian yang selama ini hilang atau terlupakan dalam bahtera rumah tangga. Namun, dalam hati saya, ketika saya mendapati tugas ini, saya sudah bisa membayangkan bagaimana respon suami karena sudah sering saya memberikan semacam “surat cinta” baik berupa WA, email, blog, ataupun ditulis dalam secarik kertas langsung, namun respon dari suami tetap sama”read only”…hehehe…

Ketika masanya tiba pada saat pemberian tugas ini, suami kebetulan sedang dinas luar. Hal ini yang membuat saya ragu untuk membuat, karena pasti ujung-ujungnya juga tidak akan direspons. Namun, pada saat suami menjelang pulang, ketika di pesawat saya kirimkan surat cinta yang menurut saya itu hanya ungkapan isi hati yang standar saja, karena kebetulan saat itu komunikasi kami sedang tidak begitu lancar, namun Subhanallah hal yang tidak disangka-sangka sekitar pukul 02.30 ketika saya terbangun, saya melihat ada sebuah dokumen yang dikirim melalui WA, dan itu adalah balasan surat cinta saya dari sang suami. Begitu membaca surat tersebut, rasanya seperti mimpi…karena selama 13 tahun kita bersama, saya mengenal sosok pribadi suami saya yang datar, cuek, dan cenderung kurang suka hal-hal yang bersifat romantis. Ada sepenggal kalimat yang ditulis oleh suami saya yang membuat saya selalu berlinang air mata setiap kali saya membacanya: “Mengingatkan pada waktu Tawaf wada pas kita Umroh, dimana terakhir kita bertawaf dan akan meninggalkan Mekah pada saat itu, putaran kedua dari Maqom Ibrahim sampai Rukun Yamani, dalam linangan airmata kusebut namamu berpuluh-puluh kali:

 Ya Robb, saya mohon padamu ya Robb, ampunilah dosa istriku, jangan dekatkan sekecilpun dan sedetikpun dalam panasnya api neraka. Jikalau istriku ada kekeliruan, maka kekeliruan itu barangkali karena saya belum memberitahunya, maka saya bertanggungjawab atas itu.”

Sungguh setiap kali membaca kalimat ini, air mata saya tidak bisa dibendung karena saya menjadi tersadar bahwa selama ini saya sering syuudzon kepada suami saya atas sifatnya yang cuek dan datar terhadap saya. Tapi di balik semua itu, suami saya sangat bertanggung jawab lahir dan bathin terhadap saya bahkan menyatakan bertanggung jawab atas dosa-dosa yang saya lakukan selama ini. Ya Allah…sungguh jika saya diminta membuat aliran rasa tentang tugas surat cinta ini, saya malah tidak mampu berkata-kata karena yang ada saya sudah nangis duluan saking terharu dan sekaligus bersyukur bisa mendapatkan kesempatan mengerjakan tugas ini sehingga apa yang selama ini dirasa terlupakan dalam rumah tangga kami, dapat menjadi hadir kembali yaitu perasaan “cinta”.

Potensi Anak-anak

Saya ibu dari 2 anak. Yang pertama laki-laki berusia 6,5 tahun, yang kedua laki-laki juga berusia 2,5 tahun. Jika berbicara mengenai potensi anak, saya lihat untuk anak pertama saya cenderung lebih ke bahasa karena dia sangat fasih bercerita layaknya orang dewasa. Di usianya yang tergolong masih anak-anak, dia sudah bisa dijadikan teman curhat saya dan bisa dimintai pendapat. Selain itu dia juga memiliki kemampuan visual dan daya imajinasi yang tinggi. Hobinya menggambar dan bermain lego dan dia bisa berkreasi sedemikian rupa sehingga saya berkesimpulan dia mempunyai potensi di bidang arsitek.

Menjadi Ibu Idaman bagi anak-anak

Untuk anak saya yang kedua, tidak jauh berbeda dengan anak yang pertama. Alhamdulillah pada saat menginjak usia 2 tahun, dia sudah bisa berkomunikasi dengan lancar (mungkin karena sering meniru gaya bicara kakaknya). Namun secara spesifik masih belum terlihat potensi yang dimiliki, hanya sekarang ini dia mulai menyenangi bermain lego besar dan menggambar binatang.

Potensi Diri Sendiri

Semenjak kecil, saya senang sekali menulis di buku diary. Dari mulai duduk di bangku sekolah sampai kuliah, saya selalu punya buku diary dan apapun kejadian yang saya alami, saya selalu tuliskan dalam buku diary tersebut. Sampai sekarang, saya sangat senang menulis, apalagi tulisan yang berisi tentang kisah atau pengalaman hidup. Termasuk di kelas IIP ini, ketika saya mulai mengerjakan tugas baik itu membuat aliran rasa atau pada saat diskusi, saya suka terkadang tidak bisa mengontrol tulisan saya yang mungkin terlalu panjang seperti novel, hehe…Dari hobby menulis diary ini, saya dapat mengambil hikmah bahwa Alhamdulillah saya diberikan kepekaan dan memang terkadang dalam menghadapi sesuatu, saya lebih menggunakan perasaan. Sedangkan suami saya orangnya sangat rasional yang cenderung menggunakan logika di dalam menghadapi segala sesuatu. Selain itu yang menjadi kelemahan sekaligus kelebihan saya adalah saya cenderung lebih banyak pertimbangan dan lebih berhati-hati dalam memutuskan sesuatu sehingga dalam mengerjakan sesuatu cenderung lama dan perlu pengecekan yang berulang-ulang, sedangkan suami saya dalam mengerjakan sesuatu serba cepat dengan bekal kecerdasan dan skill yang dia miliki. Namun terkadang masih perlu pengecekan ulang yang itu semua diserahkan kepada saya. Dari dua kepribadian yang berbeda yang dimiliki oleh saya dan suami, saya menyadari bahwa Allah sudah mempunyai rencana terbaik mengapa saya dihadirkan di tengah-tengah keluarga yang saya miliki dan mengapa saya berjodoh dengan suami saya mungkin agar supaya kita berdua bisa saling melengkapi untuk menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak kami.

Tantangan Lingkungan

Setelah lulus kuliah, 12 tahun saya bekerja di ranah publik yang memang tingkat intensitas waktu bekerjanya cukup tinggi. Namun selama itu saya happy karena pada dasarnya saya memang suka bekerja dan suka dengan kesibukan. 1 tahun terakhir ini, Qadarullah saya beralih ke dunia yang lebih banyak berada di ranah domestik. Pada awal peralihan dari ranah publik ke ranah domestik, dan mungkin sampai saat ini saya masih mengalami post power syndrome. Ini merupakan tantangan bagi saya karena kebetulan di lingkungan sekitar tempat tinggal saya, saya juga tidak terlalu banyak kenal dengan tetangga karena sebagian memang bekerja di ranah publik. Tetapi hikmah yang saya dapatkan dibalik perjuangan saya untuk melawan post power syndrome ini adalah saya menjadi lebih banyak waktu bersama anak-anak dan lebih mengenal dan belajar tentang karakter anak-anak yang mungkin banyak saya lewatkan ketika saya bekerja full time.

Komentar

comments

About Puri Pramudiani

Lihat lainnya

Seminar PADi

Setiap insan pasti pernah mengalami masa-masa kegundahan hati yang dihadapinya, tergantung kuat atau tidaknya seseorang …