Home / My Note / #1 ADAB MENUNTUT ILMU

#1 ADAB MENUNTUT ILMU

Jurusan Ilmu yang Ingin Ditekuni
Berbicara mengenai jurusan ilmu yang akan/ingin ditekuni membuat saya flashback terhadap pilihan hidup yang dirasa menjadi sumber masalah yang saya rasakan saat ini. Hal ini menurut saya pribadi berkaitan dengan passion. Saya, yang sampai detik ini masih menyesali kenapa saya tidak bisa lebih tegas memilih jurusan ilmu yang sesuai dengan passion saya, walau saya tahu penyesalan itu tidak ada gunanya dan dalam Islam tidak boleh kita menyesali sesuatu yang sudah menjadi takdir kita. Namun mudah-mudahan saya bisa mengambil ibroh dari semua hal ini.
Dari kecil saya tertarik dengan dunia pendidikan, karena saya dibesarkan dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai tenaga pendidik (guru), sehingga secara tidak langsung saya pun ikut terpengaruh dengan keseharian dan rutinitas kedua orang tua saya yang memang banyak melibatkan saya di dalamnya. Saya sering diajak ke sekolah ayah dan ibu saya sehingga saya pun tertarik dengan profesi guru. Sampai saat ini saya masih senang dengan dunia pendidikan, namun saya merasa saya salah mengambil jurusan, sehingga itu yang membuat saya depresi dan seperti kehilangan arah. Atas dasar itulah saya sekarang memiliki keinginan kuat untuk mendalami ilmu psikologi.

Alasan Memilih Ilmu Tersebut
Mengapa saya sekarang berkeinginan untuk mendalami masalah psikologi? Tentunya di pertanyaan nomor 1 sudah tergambar alasannya yaitu karena saya depresi. Namun izinkan saya bercerita pengalaman hidup saya yang pada akhirnya membuat saya depresi.
Dari kecil saya termasuk ke dalam kategori anak yang beruntung dalam pelajaran, dan tentunya hal ini membuat orang tua saya bangga dan menaruh harapan besar kepada saya. Saya dibesarkan dari keluarga yang sangat harmonis dan Alhamdulillah memiliki orang tua yang super sayang sekali kepada saya. Kecintaan orang tua kepada saya membuat saya tergerak untuk selalu sami’na wa athona terhadap apa yang disarankan oleh orang tua saya sekalipun tidak sesuai dengan keinginan saya. Sebagai anak perempuan paling pertama, saya sangat dekat dengan ayah saya yang pada saat itu berprofesi sebagai guru matematika.
Sampai ke jenjang SMP, saya tidak merasakan masalah berarti dengan matematika, namun begitu masuk ke SMA, entah kenapa saya mulai tidak menyukai dan tidak menguasai pelajaran tersebut. Namun, karena kedua orang tua saya berprofesi sebagai guru, mereka pun mengarahkan saya untuk menjadi seorang guru dan masuk ke universitas pendidikan yang akan mencetak menjadi guru. Saat itu saya yang masih labil dan belum mengenali apa itu passion, saya manut kepada ayah saya yang menyarankan saya mengambil jurusan pendidikan matematika dengan alasan jurusan pendidikan matematika banyak dibutuhkan dan peluang kerja serta peluang untuk menjadi PNS lebih besar dibanding jurusan lain, padahal mata pelajaran itu yang paling saya takuti dan hindari. Jika saat itu saya boleh memilih, saya lebih menyukai bahasa atau ilmu komunikasi. Namun saya memutuskan untuk mengikuti apa kata ayah saya dan berharap pilihan orang tua membawa keberkahan buat saya.
Semester pertama saya jalani dengan berat dan saya merasakan stres menghadapi hari-hari saya saat itu. Saya selalu dilanda migren dan muntah-muntah setiap kali ujian tiba. Sampai saya pernah menulis di koran, “saya pilih karena saya tidak suka”. Namun mungkin karena doa orang tua, dibalik setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Selalu ada kemudahan di dalam setiap pengerjaan tugas yang akhirnya membuat saya lulus dengan predikat yang sangat memuaskan. Begitu lulus sarjana saya merasa lega karena bisa terhindar dari yang namanya matematika. Dan beruntung saat itu saya langsung mendapat pekerjaan di dunia birokrasi yang hampir tidak sama sekali menyentuh matematika, karena pekerjaannya sangat administratif.
Di tahun kedua saya bekerja di kementerian tersebut, saya bertemu dengan ketua jurusan saya waktu S1 dan menawarkan beasiswa keluar negeri. Qodarullah saya harus menempuh kembali pendidikan matematika. Namun lagi-lagi Allah Maha Baik, di S2 ini saya tidak terlalu mengkaji masalah matematikanya, namun lebih banyak pedagogi nya, sehingga saya tetap bisa menjalaninya dengan baik dan lulus dengan predikat yang baik.
Begitu lulus S2, saya pernah mencoba menjadi dosen di Bandung, namun karena yang dilihat itu kualifikasinya, saya diminta lagi untuk mengajar pendidikan matematika. Sehingga itu membuat saya stres setiap kali mau mengajar. Kebetulan saat itu saya sudah tinggal di Tangerang Selatan, sedangkan saya mengajar di Bandung seminggu 3 kali. Qadarullah juga saat itu tanpa diduga-duga saya hamil anak pertama dan kandungan saya pun tergolong lemah sehingga saya memutuskan untuk resign dan kembali ke kantor lama.
Selama 11 tahun bekerja di dunia birokrasi, saya merasa senang karena hampir tidak pernah berkaitan lagi dengan matematika. Namun, Qadarullah di tahun 2018 terjadi perubahan reformasi birokrasi yang pada akhirnya membuat saya berada dalam pilihan bertahan atau pindah karena pada saat yang bersamaan, ada kesempatan untuk menjadi dosen tetap. Jujur saat itu keinginan saya adalah bertahan di kantor dan memilih menjadi staf, karena 11 tahun bekerja di sana, saya sudah merasa kantor itu seperti rumah kedua dan sudah berada di zona nyaman. Namun kondisi yang “memaksa” saya akhirnya harus memutuskan untuk memilih kembali ke dunia kampus yang tentunya harus berhadapan lagi dengan bidang yang saya tidak sukai yaitu “matematika”. Ini yang membuat saya sekarang merasa galau apakah saya mau melanjutkan pekerjaan ini sedangkan setiap mau ke kampus saya merasa stres, karena tidak banyak orang yang tahu bahwa saya ini tidak begitu menguasai bidang yang saya jalani sekarang.
1 tahun terakhir ini saya sering bolak-balik ke Rumah Sakit, bahkan sudah sering saya konsultasi ke Psikolog, Psikiater, Hypnotheraphyst, bahkan ke Pengobatan Alternatif pun sudah saya jabani. Kondisi saya tidak lebih baik karena mendengar judgement dokter yang menyatakan saya sudah “depresi berat” membuat kondisi saya semakin terpuruk. Saya sampai kehilangan berat badan hampir 20 kg dan sering mengkonsumsi obat-obatan anti depresan. Selama 1 tahun ini saya yang tadinya extrovert berubah menjadi introvert. Saya sering menutup diri dan tidak mau ketemu dengan orang-orang dikarenakan saya takut orang menjadi ngeuh bahwa saya sedang depresi. Ketika di rumah, saya bukannya fokus dengan anak-anak tetapi malah saya sering menangis dan berteriak-teriak menyalahkan diri sendiri merasa sudah salah mengambil keputusan. Saya merasa sudah jatuh ke lubang yang sama, pada saat mengajar di Bandung saya sempat merasakan depresi walau tidak seberat sekarang karena saya langsung resign saat itu, dan sekarang kejadian itu terulang lagi. Namun untuk resign dari tempat saya mengajar sekarang pun rasanya agak sulit karena saya sudah diangkat dosen tetap dan sudah memiliki jabatan fungsional. Hal ini yang tidak banyak diketahui orang, karena kebanyakan orang sangat mendambakan profesi dosen itu, saya pun demikian. Namun untuk berubah haluan pun rasanya sulit karena orang sudah banyak melabeli saya dengan gelar Master of Science, dan orang menganggap bahwa saya ahli di bidang matematika, padahal jika saya diminta mengerjakan soal tingkat rendah pun saya terkadang tidak bisa.
Pada saat kondisi saya sedang berada di puncak depresi, satu-satunya orang yang sangat paham dan selalu mendengarkan keluh kesah saya adalah ayah saya. Karena saya memang dekat dengan ayah saya, pada saat kondisi saya sedang labil seperti itu, saya sering curhat dengan ayah saya, karena saya dan ayah saya bagaikan satu jiwa, banyak kemiripan diantara kita, sehingga saya sangat nyaman curhat dengan ayah saya. Namun saya tidak pernah menyangka bahwa dengan saya sering curhat ke ayah saya, malah menjadi beban pikiran untuk ayah saya dan membuatnya merasa bersalah kenapa dulu mengarahkan saya untuk memilih jurusan yang sebetulnya tidak saya sukai/kuasai. Tanpa disadari, beberapa bulan yang lalu ayah saya jatuh sakit, kondisi jiwanya terguncang karena mungkin di alam bawah sadarnya, saya adalah harapan besar untuknya, sedangkan saya seolah-olah sudah hampir gagal. Pada saat itu ayah saya masih aktif mengajar, namun karena kondisi tersebut, ayah saya memutuskan untuk pensiun dini, dan pada akhirnya sekarang ayah saya mengalami “Post Power Syndrome” berat dan jauh lebih berat dari saya. Ayah dan Ibu saya sekarang hanya tinggal berdua di Bandung. Sedangkan ibu masih aktif mengajar sampai sore, jadi kondisi ayah saya sekarang tidak lebih baik karena sering merasakan kesepian di rumah. Saya sekarang merasa kehilangan sosok ayah saya yang periang, yang selalu menyemangati saya. Sekarang ini kondisi kejiwaan ayah saya sedang tergoncang, seolah tidak memiliki semangat hidup lagi dan menjadi pribadi yang sangat berbeda. Hal itu tentunya berdampak kepada ibu saya yang sehari-hari mendampingi ayah saya. Ibu pun sekarang badannya menjadi kurus dan tidak seceria dulu. Itulah yang melatarbelakangi kenapa akhir-akhir ini saya malah ingin beralih mendalami Ilmu Psikologi. Pengalaman saya sering ke Psikolog/Psikiater membuat saya malah ingin mengetahui bagaimana cara penyembuhan diri sendiri dan juga cara menyembuhkan ayah saya. Karena saya tetap merasa bersalah dengan kondisi yang terjadi dengan ayah saya sekarang.

Strategi Menuntut Ilmu
Selama menuntut ilmu secara formal baik di S1 dan S2, saya mungkin terbilang tidak sepenuhnya melakukan dengan hati, karena masih ada unsur keterpaksaan. Namun belakangan ini saya mendapatkan materi di IIP bahwa untuk mempelajari sesuatu itu harus diawali dengan rasa cinta dan ridho terhadap ilmu yang akan kita pelajari tersebut. Sehingga strategi yang akan saya utamakan adalah mencintai dulu ilmu yang akan saya pelajari dan menjadikan ilmu tersebut sebagai suatu kebutuhan hidup. Lebih jauhnya, saya berharap jika suatu saat saya mendapatkan rejeki, saya ingin melanjutkan jenjang pendidikan saya di bidang psikologi dan banyak membaca buku atau referensi mengenai ilmu psikologi. Saya sering mendengar orang mengatakan bahwa orang yang beriman tidak akan pernah depresi. Lalu mengapa saya depresi? Berarti ada yang salah atau kurang dengan keimanan saya. Jadi strategi yang akan saya tempuh dalam menekuni ilmu psikologi ini adalah mencintai, meridhoi, dan meningkatkan keimanan saya kepada Allah SWT Sang Maha Pemberi Ilmu.

Perubahan Sikap yang Diperbaiki dalam Proses Mencari Ilmu Tersebut
Selama saya melabeli diri saya dengan kondisi depresi, saya pun banyak mencari tahu apa penyebab dan bagaimana penanganan depresi yang saya alami. Saya banyak searching di google, youtube, dan juga mencari referensi lain mengenai istilah depresi itu sendiri. Belakangan saya menyadari bahwa gejala-gejala yang saya rasakan itu seperti OCD (Obsessive Compulsive Disorder) yang disebabkan oleh sifat perfectionist saya yang berlebihan, karena kebiasaan saya selalu membuat “to do list” setiap hari dan ketika saya tidak bisa mengerjakannya, saya akan menyalahkan diri sendiri. Ketika depresi itu tiba, saya berubah menjadi orang pemalas dan tidak produktif karena saya merasa passion saya sudah hilang. Saya sering mengurung diri di kamar seharian. Saya pernah membaca istilah “what make people depression is because they always try to being too nice to others”. Ini saya banget yang selalu memikirkan perasaan dan pemikiran orang terhadap saya dan selalu berusaha membuat orang senang tanpa memikirkan diri saya sendiri. Dan tanpa disadari kondisi ini mempush saya dan membuat saya stres sendiri. Terakhir kemarin ketika saya membaca diskusi di kelas matrikulasi ini, fasilitator menjelaskan tentang “Cinderella complex dan peter pan syndrome” dimana ketika saya searching di google ciri-ciri Cinderella complex ada dalam diri saya. Ternyata terlahir dari keluarga yang sangat harmonis dan memiliki jalan hidup yang selalu mulus serta selalu mendapatkan apa yang diinginkan juga bisa memicu depresi ketika kita berada dalam kondisi cinderella complex. Saya sama sekali tidak pernah menyalahkan ayah dan ibu saya, karena saya sadar mereka sangat mencintai saya sepenuh hati dan ingin yang terbaik untuk saya. Namun proses kehidupan ini memang harus saya jalani sebagai bagian dari pembelajaran yang harus saya petik hikmahnya. Oleh karena itu perubahan sikap apa yang akan saya tempuh Salam proses mencari ilmu tersebut adalah:

  1. Meminimalisir sifat perfectionist saya dan berusaha menerima bahwa setiap manusia termasuk saya itu tidak luput dari kesalahan;
  2. Membersihkan hati dari segala penyakit hati termasuk “negative thinking” dan berusaha lebih ikhlas dan berani dalam menjalani segala alur kehidupan.
  3. Menguatkan kaki dan pundak saya dan menyadari bahwa saya sekarang sebagai seorang istri dan ibu dimana ada 3 makhluk yang harus saya urusi dan layani, tidak lagi saya menjadi seorang Cinderella yang selalu menggantungkan hidup kepada orang lain.

Komentar

comments

About Puri Pramudiani

Lihat lainnya

Seminar PADi

Setiap insan pasti pernah mengalami masa-masa kegundahan hati yang dihadapinya, tergantung kuat atau tidaknya seseorang …